Sabtu, 04 Oktober 2014

Iedul Adha 2014

Selamat Iedul Qurban 2014.
Qurban 2014 seperti tahun 2013 kemarin, masih didominasi Qurban ternak Sapi. Di masjid Lingkungan rumah tinggal saya terkumpul Qurban sapi 27 ekor, sedang Qurban kambing hanya 8 ekor. Mahalnya harga kambing menjadi salah satu sebab para Qurbaners beralih ke Qurban sapi dengan cara patungan per orang mulai dari Rp.1.750.000 - Rp.2.000.000 dikalikan 7 orang untuk 1 kelompok.
Kalau kita lihat data statistik pertumbuhan ternak sapi di Jawa timur menurun 20% dari tahun lalu.Sedangkan pertumbuhan ternak kambing dan domba naik 7% dari tahun lalu.Saya yakin dengan trend yang naik para Qurbaners beralih ke Qurban sapi...Kelangkaan persediaan daging sapi di Jawa Timur akan terus terjadi.
Untuk Tahun depan ...yuk...kita berQurban Biri biri atau domba seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim AS.







Rabu, 24 September 2014

Penjual Kambing Qurban Raya Tengger Kandangan

Iedul Qurban sudah didepan mata, biasanya di area sepanjang jalan sudah banyak para pedagang kambing dan sapi sudah mulai memajang dagangannya. Bila kita sedikit kritis memperhatikan fenomena para pedagang ternak Qurban, pasti ada sedikit pertanyaan yang ada di pikiran kita...." Pedagang Kambing Semakin Berkurang.." ya sudah 2 tahun ini para pedagang kambing sudah berkurang, sedang pedagang sapi mulai bertambah.
Pak Ri dan Pak Sapuan memberikan alasannya....walah mas...sekarang harga kambing mahal kulakannya, ini aja saya dari Kediri kulakan sudah gak ada harga dibawah 1.5 jt...lah Saya harus jual berapa? belum dipotong transport, pakan kambing dan makan kita bertiga selama di Surabaya, untuk tidur ya di tenda lapak jualan ini.
Berkurangnya pembeli Kambing untuk Qurban yang beralih ke Qurban Sapi patungan itu juga jadi penyebabnya...
Kambing bobot sedang harganya sekitar Rp.2.5jt...sedang Patungan Qurban sapi di masjid masjid hanya 1.7jt - 2 jt....oalah pak..
Semoga dagangannya laris ya pak...











Sate Langganan Warga Griya Citra Asri

Namanya Mat Solikin baru menikah belum punya anak, langganan sate setiap malam. Kalau hari kerja sehari bisa menjual 200 tusuk sate, lain kalau saat hari libur...lumayan bisa sampai 300 tusuk sate. Mat Solikin tidak resah mendengar kenaikan harga elpiji yang baru naik Rp.18.000/kilo per hari ini...." Yang penting harga areng e tidak naik pak..." kata Solikin dengan logak maduranya yang medok.
Mat Solikin memang harus berhitung cermat dengan penghasilannya berjualan sate keliling untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama istri tercinta....mulai dari bayar kos Rp.300.000/bulan, beli token listrik Rp.60.000/bulan, dan memutar belanja dagangannya setiap hari agar dapur tetap ngebul....dan sepertinya Mat Solikin juga tidak mau tau di luaran sana para pemimpinnya pada berebut kekuasaan-tarik menarik perang nafsu penuh ketamakan....
........teee...sateeeeeeeee......teee ayaammmm..







Minggu, 10 Agustus 2014

Lomba Agustusan 2014 - Makan Krupuk

Lomba Agustusan di Griya Citra Asri RT 07 RW 07 dimulai lebih awal dari RT lainnya, Karang taruna sudah membuat jadwal lomba yang menarik dan sangat banyak dengan hadiah yang akan dibagikan bagi sang juara.
LOmba lomba tradisional khas Agustusan mulai dari makan kerupuk, balap kelereng, masukkan kapur dalam botol, sepak bola terong, mengumpulkan koin dari labu, mengambil koin di tepung dll.
Semarak peringatan 17 Agustus nantinya akan diakhiri dengan malam tirakatan di pertigaan jalan 8C.
Merdekaaa!!!













Rabu, 18 Juni 2014

Dolly 18 Juni 2014 ...ditutup.

Selamat Siang teman teman.
Saya menulis tentang Dolly hari ini...sebagai hari bersejarah ditutupnya tempat prostitusi yang kabarnya terbesar di Asia Tenggara.
Memang ada Pro dan Kontra, apalagi ditambahi dengan intrik intrik Politik didalamnya...wong tanpa Politik aja sudah lumayan Ruwettt...apalagi ditunggangi Partai Politik yang 100% mempunyai agenda tersendiri diluar agenda Kemanusiaan-Ketertiban-Mengentas Kehidupan dan agenda agenda mulia lainnya.
Saya mulai menulis tentang Dolly dimulai dari pertanyaan dari Sahabat Karib saya aja ya...biar tidak puanjang dan lamaaa....
Ini pertanyaannya :
Bagimana lo sebaiknya tentang Dolly? ditutup dengan konsekwensi mereka para PSK sembunyi sembunyi hingga penyebaran penyakit kelamin tidak terkontrol atau bagaimana?
Jawabanya gampang Sahabatku...
Penutupan secara symbolis yang dilakukan oleh Ibu Risma sebagai Walikota Surabaya itu akan berimplikasi sangat luas dan berkekuatan hukum bagi aparat di lapangan untuk bertindak, baik itu Polisi, Satpol PP ataupun Dinas Sosial Kota.
Status yang disandang Dolly sebagai lokalisasi prostitusi yang legal akan berubah menjadi ilegal, PSK dan Mucikarinya akan terkena pasal pasal Pidana mulai dari Pasal Prostitusi, tidak adanya Ijin usaha Prostitusi, Pasal Perzinahan, PSK dibawah umur, penjualan minuman keras, perjudian dan memperdagangkan manusia..dll.
Bagaimana kalau PSKnya jualan secara sembunyi sembunyi? ya tetap akan berhubungan dengan penegak hukum...namanya sembunyi sembunyi...kalau tidak ketahuan yo selamat anda beruntung, kalau ketahuan ya ditangkap anda belum beruntung...masuk penjara.
Mengenai penyebaran penyakit kelamin akan tidak terkontrol...Pertanyaannya sekarang apakah dengan Lokalisasi Dolly sekarang penyebarannya terkontrol? siapa yang mengkontrol? siapa yang memeriksa? siapa yang menjamin tidak ada penyakit kelamin yang tertularkan?
Apakah di Lokalisasi dipasang tanda larangan : Berpenyakit Kelamin dilarang masuk?
Apakah kalau sudah namanya Lokalisasi dijamin bersih?
Bukankah data dari dinas Sosial dan Dinas Kesehatan kota yang menyatakan penderita HIV AIDS dan penyakit kelamin di kota Surabaya tertinggi setelah Jakarta, Papua?
OLeh sebab itu teman, Penutupan Dolly sudah tepat dan benar.
Di luar pertanyan dan jawaban Saya diatas kita harus menyatukan persepsi dulu biar ngehh dan klop agar lurus kembali bahwa Prostitusi-Perzinahan-Zina adalah hal yang melanggar NORMA-HUKUM-ADAB dan NILAI LUHUR manusia, Seperti juga halnya Berjudi-Mencuri-Memperkosa-Membunuh dll. Semuanya itu melanggar hal hal baik yang sudah melekat di diri manusia ( Saya tidak ngomongin Agama lo ya )
Kalau berkaca dari hal diatas, harusnya penutupan Dolly menjadi sesuatu yang lumrah dan maklum di masyarakat, bukan sesuatu yang berat dan harus gontok gontokan, bukannya pertentangan antara MORALITAS melawan HUMANITY seperti sekarang yang ada di masyarakat.
Satu kubu merasa Prostitusi Lokalisasi Dolly adalah a Moral dan harus ditutup, sedangkan kubu yang lain merasa kalau ditutup terus mereka makan apa? bagaimana mereka bisa hidup?...iya to?
Dolly ditutup adalah langkah yang logis dan bermartabat. Bermartabat buat siapa? ya buat semuanya.
Buat masyarakat setempat, buat mucikari, buat PSKnya, buat pemerintah kota dan buat generasi muda kita.
Langkah Pemkot dengan memberikan pelatihan dan pembekalan untuk berpindah mencari pekerjaan yang layak dan bermartabat sudah tepat. Diberi Modal, Pelatihan, Bimbingan dsb.
Untuk urusan mereka bisa survive dan maju dalam usaha barunya ya tergantung dari individu individu mereka, bukan tergantung Pemkot.
Misalnya mereka telah diberikan pelatihan usaha bikin Salon selama 3 bulan, modal sudah diberikan, terus usahanya tidak berjalan...apakah salah Pemkot?
Mereka terus mengeluh...wahhh kalau pelatihan dan bimbingan cuma 3 bulan ya tidak cukup...harusnya minimal 1 tahun...welehhh Modyarrr....
Mereka harus mulai sadar dan bangkit dari ketagihan mencari uang dengan cara mudah, mereka harus lebih kerja keras seperti orang lain, seperti profesi lainnya siap bersaing,berprestasi menghasilkan produk,menabung, mengembangkan usaha dll. Harus hilangkan rasa nyaman dengan bekerja satu jam sudah menghasilkan ratusan ribu rupiah, jadi calo PSK sehari bisa buat makan seminggu, Berdiri sebagai keamanan Lokalisasi mendapat segalanya ..dll.
Loh Mas...lingkungan mereka itu sudah terbentuk ratusan tahun lo ya..sudah saling membutuhkan antara PSK,Mucikari,Warung kopi, petugas keamanan,RT,RW,Camat, dan masyarakat sekitar...piye to?
Lah...kalau tidak ditutup sekarang? ditutup kapan ?  Mentas dari kemaksiatan kapan? Menjadi Manusia yang bermartabatnya kapan? hehehehe...

Note : Semua Photo dibawah ini adalah karya sahabat fotografer Saya - Cak Rachmad - Ketua Surabaya In Frame.